Kalau Hanya Batuk Pilek Biasa Tidak Perlu Antibiotik

Benarkah flu tak boleh langsung diobati dengan antibiotik? Dr Alyya Siddiqa, SpFK, dokter spesialis farmakologi klinis dan dosen di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta menjelaskan hal ini benar jika flu yang dimaksud mungkin batuk-pilek biasa yang umumnya disebabkan oleh virus.

Penyakit yang disebabkan virus tidak perlu diobati dengan antibiotik karena fungsi antibiotik adalah mematikan bakteri. Pemberian antibiotik jadi tidak berguna, kecuali dokter menduga telah terjadi infeksi bakteri. Namun, ini pun bukan untuk penyakit common cold. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Jangan Sepelekan Batuk

Mendengar namanya saja, kita akan langsung teringat dalam daftar 100 dokter terbaik di Indonesia versi Majalah Campus Asia. Ia adalah Prof Dr dr Hadiarto Mangunnegoro, Sp.P(K) FCCP, seorang dokter spesialis paru-paru yang kini menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Asri Jakarta.

Prof Hadi, begitu ia kerap disapa menjelaskan, sering kali, batuk yang disertai tenggorakan gatal cenderung ‘digampangkan’ dengan minum obat batuk cair tanpa takaran yang benar dengan hanya mengedepankan sensasi instan di tenggorokan.

Padahal, menurut dokter lulusan Universitas Indonesia ini, jika batuk berdahak dan tak kunjung sembuh lebih dari sebulan yang diikuti sesak napas atau tidak kuat menaiki anak tangga, bisa dipastikan seseorang terkena Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

PPOK adalah penyakit yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara di saluran nafas dan bersifat progresif. Penyebabnya adalah inflamasi paru akibat paparan gas berbahaya, rokok, asap polusi atau pembakaran. Gejalanya yaitu sesak nafas, batuk kronik, aktivitas memburuk dan kondisi paru-paru yang abnormal (menggembung). Menurut WHO, PPOK menduduki urutan ke-5 penyebab kematian.

“Penyakit ini dapat dicegah dan diobati, tapi tidak bisa disembuhkan. Dokter hanya bisa menolong, bukan menyembuhkan,” ujarnya. Menurut Prof Hadiarto, pemicu utama PPOK adalah rokok. “Jadi kalau nggak mau kena penyakit ini, kebiasaan pertama yang harus dihilangkan adalah rokok, kedua rokok, ketiga juga rokok,” ujar Hadiarto.

PPOK akan semakin parah kalau faktor-faktor penyebabnya tadi berada di ruang tertutup, seperti dalam ruangan. “Makanya itu kenapa orang-orang sekarang yang kena PPOK jauh lebih tinggi jumlahnya dibanding zaman dulu, itu karena orang sekarang lebih banyak tinggal di apartemen, selain karena polusi yang tinggi, terutama di Jakarta” ujarnya.

Asal tahu saja, meski penyebab utama PPOK adalah rokok, tapi orang yang tidak merokok pun bisa terkena. “Saya pernah punya pasien PPOK, dia tidak merokok dan lingkungan sekitarnya pun bebas dari asap rokok, tapi kenapa dia bisa kena? Setelah ditanya-tanya, ternyata dia punya kebiasaan membakar daun,” tutur Prof Hadi.

Orang yang terkena asap rokok atau perokok pasif pun bisa terkena. “Tapi nggak bener kalau ada yang bilang perokok pasif itu lebih parah dari perokok aktif,” tambahnya. Selain itu, gaya hidup dan lingkungan yang sehat juga bisa mencegah penyakit ini.

“Berhenti merokok, ciptakan udara bersih di rumah, hindari asap dan debu kendaraan, jangan memasang obat nyamuk bakar dalam tempat tidur, jaga kebugaran dengan latihan jalan, olahraga dan makan makanan sehat,” saran Hardiato.

“Jangan mentang-mentang sudah tua jadi nggak mau olahraga dan kerjaannya cuma baca koran, nonton TV atau tidur-tiduran. Bisa-bisa nanti nggak bangun-bangun lagi,” katanya.

Satu saran lagi dari Hadiarto adalah merokoklah di waktu tua, jangan waktu muda. “Kalau mau merokok, mulailah pada usia 60 tahun, karena udah nggak ada gunanya lagi hidupnya. Itu kenikmatan satu-satunya sebelum kembali ke tanah,” ujarnya sambil menyindir perokok.

Prof Hadiarto adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Dewan Ilmiah dan Penelitian Pengurus Pusat PDPI. Beliau juga pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Pelayanan Medis RSUP Persahabatan, President of the 14th Asia Pacific Congress on Diseases of the Chest (APCDC) tahun 1996.

Lahir di Cianjur, 18 Juli 1942. Alumnus SMA Negeri III Jakarta pada tahun 1960, melanjutkan ke FK UI Pendidikan Dokter Paru Bagian Pulmonologi tahun 1971, mendapat Surat Tanda Keahlian Dokter Paru pada 7 Januari 1971. Pernah mengikuti Pendidikan latihan Bronkoskopi, Research Institute of Tuberculosis, Japan Anti Tuberculosis Association, Tokya, Japan.

Karya-karya ilmiah yang dihasilkan berupa buku sejumlah 5 buah, karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan sebagi penulis utama sejumlah 12 buah, karya ilmiah lain yang dipublikasikan sebagai penulis utama sejumlah 16 buah, karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan sebagai penulis pembantu sejumlah 29 buah, makalah yang dipresentasikan pada pertemuan ilmiah tingkat nasional sejumlah 121 buah, dan makalah yang dipresentasikan pada pertemuan ilmiah tingkat internasionalsejumlah 24 buah.

(sehat/ZM/inilah)

Anak Batuk Pilek Jangan Diberi Antibiotik

Batuk dan pilek adalah penyakit yang paling umum dialami anak kecil. Jika diberi antibiotik justru bisa memperparah kondisinya dan anak jadi lebih sering batuk pilek.
“Balita yang dikasih antibiotik justru akan makin sering batuk pilek,” ujar Prof Iwan Dwiprahasto selaku Guru Besar Farmakologi Universitas Gajah Mada dalam acara workshop jurnalis kesehatan di FISIP UI, Depok, Sabtu (26/3/2011). Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: