Dokter Dituduh Sengaja Bunuh Pasien dengan Resep Obatnya

Seorang dokter di California dituduh telah meresepkan obat sembarangan untuk pasien yang belum tentu membutuhkan. Dokter wanita bernama Hsiu-Ying Tseng, 42 tahun, ini harus menghadapi tuduhan pembunuhan setelah pasiennya meninggal dunia. Dr Tseng meresepkan lebih dari 27.000 obat untuk pasiennya selama tiga tahun atau rata-rata 25 resep sehari. Akibatnya, 3 orang pasiennya pun meregang nyawa.

Vu Nguyen (29 tahun) dari Lake Forest, Steven Ogle (25 tahun) dari Palm Desert, dan Joseph Rovero III (21 tahun) dari San Ramon adalah korban dr Tseng yang diberi obat resep untuk mengobati gejala kecemasan. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Umur 3 Tahun Sudah ‘Mati’ 5 Kali Akibat Kelainan Jantung

Umumnya seseorang bisa meninggal jika jantungnya berhenti bekerja. Tapi tidak bagi bocah ini, akibat memiliki kelainan jantung yang langka, ia pernah 5 kali ‘mati’ dalam setahun.

Aaron Sweeney (3 tahun) memiliki kelainan jantung langka yang bisa membuat jantungnya berhenti berdetak hingga 7 menit saat kambuh. Sang ibu menuturkan kondisi ini pernah terjadi sebanyak 5 kali dalam setahun, karena itu Aaron sering dikatakan ‘mati’ 5 kali dalam setahun.

Saat ini Aaron dilengkapi oleh defibrilator yang melekat di kulitnya untuk membantu menghidupkan kembali jantungnya jika berhenti berdetak. Ibunya, Jolaine Clark (28 tahun) telah dilatih menggunakan defibrilator ini untuk menghidupkan anaknya kembali.

Aaron yang tinggal bersama dengan ibu dan kakek neneknya, Elaine (50 tahun) dan Joe (50 tahun) pertama kali pingsan saat ia menonton televisi di rumahnya Januari tahun lalu. Keluarga pun membawanya ke rumah sakit dan berhasil menghidupkannya kembali dan mendapatkan pengobatan penuh hingga pulih.

Tapi sayangnya saat itu dokter di Yorkhill Hospital tidak berhasil mendiagnosis keadaannya, hingga akhirnya Aaron mengalami pingsan lagi untuk kedua kalinya pada Maret tahun lalu dan berhasil dihidupkan lagi.

Barulah saat Aaron mengalami pingsan untuk ketiga kalinya dokter berhasil mendiagnosis keadaannya dengan kondisi Prolonged QT Syndrome atau dikenal dengan sebutan Sindrom kematian mendadak (Sudden Death Syndrome). Kondisi ini merupakan cacat jantung yang berkembang di dalam rahim.

“Pertama kali terjadi saya tidak tahu harus berbuat apa, itu mengerikan. Saya harus melihatnya pingsan seperti mati dan harus menghidupkannya kembali, ujar Jolaine, seperti dikutip dariDailymail, Kamis (22/3/2012).

Jolaine menuturkan saat ini ia sudah sedikit tenang karena telah dilatih untuk membantu menghidupkannya kembali jika ia mengalami colaps. Kondisi ini membuatnya tidak bisa kembali bekerja dan Aaron belum bisa bersekolah.

Saat ini Aaron dilengkapi dengan alat pemantau khusus jantung yang ditanamkan di dadanya pada Januari. Alat ini akan mendeteksi saat jantung Aaron gagal bekerja dan merekam kondisi medisnya.

Namun bocah laki-laki ini mengalami gagal jantung pada bulan lalu dan akan menjalani operasi pada akhir tahun. Saat ini ada defibrilator permanen yang ditanam di bawah kulitnya sehingga alat ini akan memicu secara otomatis ketika jantungnya mulai gagal.

“Dia benar-benar hebat dan selalu bahagia, ia tahu ada yang sesuatu yang salah dengan dirinya tapi ia bisa menangani dengan sangat baik. Dokter sebenarnya melarang ia untuk berlari, tapi saya tidak bisa menghentikannya,” ujar Jolaine yang tinggal di Mosspark, Glasgow.

Jolaine menuturkan meski Aaron sudah divonis dengan kelainan jantung langka, ia hidup seperti halnya anak 3 tahun yang normal. Namun ia harus melakukan check up di Yorkhill Hospital secara teratur setiap 6-8 minggu.

Ratusan Belatung Suah Diangkat dari Kepala Faisal

Muhamad Faisal (1,5 tahun) , bayi malang itu terbaring lemah di ruang Cendrawasih 2 RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, Selasa (29/11). Sebab, saraf di kepalanya tengah digerogoti oleh belatung.

Sang ayah, Suryadi mengaku hanya bisa pasrah melihat kondisi anak kesayangannya. “Saya hanya bisa pasrah saja, ketika 200 lebih ulat belatung dikeluarkan dari kepala Faisal,” ungkap Suryadi lirih.
Faisal adalah anak keenam dari pasangan Suryadi dan Ngaini. Keseharian Suryadi, hanya bekerja sebagai buruh penjaga kebun kelapa sawit di daerah Simpang Lima Petani, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Baca pos ini lebih lanjut

‘Divine’Kretek , Asap Rokok yang Menyehatkan

Penemuan divine kretek sebagai mahakarya dan terbesar dalam ilmu pengetahuan menjadi tonggak peningkatan kesehatan berdasarkan kearifan lokal, kata pakar patologi anatomi dari Universitas Diponegoro Semarang Sarjadi.

“Dalam penelitian awal, divine kretek bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti kanker, vaskuler, dan autis serta meningkatkan secara optimal kondisi sehat manusia,” kata Guru Besar Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) itu, saat dihubungi dari Yogyakarta, Kamis. Baca pos ini lebih lanjut

Seorang Dokter Tidak Boleh Diskriminatif

Selain dituntut profesional, seorang dokter juga tidak boleh membeda-bedakan pasien, baik dari sisi agama, suku, golongan, maupun kaya dan miskin, kata Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Dasron Hamid.

“Anggaplah pasien tersebut saudara sendiri. Obatilah mereka tanpa memandang agama, suku, kaya maupun miskin,” katanya pada pelantikan dan sumpah dokter periode XXIX Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, seorang dokter harus menangani pasien secara profesional, karena pada dasarnya apa yang dilakukan semata-mata untuk kesejahteraan dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Perwakilan dari Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Joko Murdiyanto mengatakan, profesi dokter tidak lepas dari dua hal, yakni profesionalisme dan humanisme. Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: