Menyiksa Anak dengan Kesenangan

Anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga-keluarga yang serba ada, penuh kasih sayang tetapi kurang disiplin, menghasilkan anak manja. Semua keinginan mereka relatif terpenuhi berlimpah.

Ada banyak alasan orangtua memanjakan anak. Di kota besar alasan klasik adalah orangtua kasihan dengan anak yang ditinggal sendirian di rumah hanya dengan pembantu. Kesibukan kerja membuat mereka lebih mengikuti kemauan anak. Pemanjaan sebagai jalan mengatasi rasa bersalah. Semua fasilitaspun disediakan. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Stres pada Anak Hambat Pertumbuhan Otak

Tiga tahun pertama kehidupan bayi adalah periode pertumbuhan yang luar biasa yang terjadi pada seluruh area perkembangan tubuh, terutama otak. Otak bayi baru lahir hanya seberat 25% dari otak orang dewasa rata-rata. Tetapi pada umur tiga tahun, otak sudah tumbuh begitu pesatnya, memproduksi milyaran sel dan ratusan triliun koneksi, sinapsis atau sambungan syaraf antar sel-sel tersebut. Meskipun pertumbuhan otak tidak berhenti sampai umur tiga tahun – melainkan sampai usia remaja – namun setelah usia tiga tahun pertumbuhan otak semakin melambat. Baca pos ini lebih lanjut

Dekat Dengan Guru Cegah Anak Berperilaku Agresif

Hubungan yang baik antara guru dengan murid ternyata dapat melindungi anak dari ekspresi agresi atau pun korban dari agresi. Agresi adalah tingkah laku yang ditunjukkan oleh individu dengan maksud melukai atau mencelakakan individu lain dengan atau tanpa tujuan tertentu.

Temuan ini dipublikasikan dalam journal Child Development, berdasarkan hasil pengamatan terhadap siswa kelas satu di Kanada. Penelitian diigagas para ahli dari University of Quebec di Montreal, Laval University, University of Alabama, University of Montreal, dan University College Dublin.

“Perilaku agresif pada anak sebagian diketahui karena ada faktor genetik, namun pengaruh genetik terhadap perilaku biasanya tidak bersifat independen (sendiri), melainkan juga ada pengaruh lingkungan,” kata Mara Brendgen, profesor psikologi dari University of Quebec, Montreal, Kanada sekaligus sebagai pemimpin penelitian

Para peneliti mempelajari 217 pasang anak kembar identik di Kanada dan kembar fraternal (non-identik) pada usia 7 tahun untuk menyelidiki hubungan antara nature (bawaan alami) dan nurture (pengasuhan) terkait penyebab agresi pada anak. Pasangan kembar tersebut tidak berada pada kelas yang sama, dan memiliki guru yang berbeda dan teman sekelas yang berbeda.

Studi ini menemukan bahwa anak yang secara genetik rentan menunjukkan agresi cenderung menyerang teman-teman sekelasnya. Namun, anak-anak tersebut dapat terhindar dari tingkah laku agresif jika mereka memiliki hubungan yang sangat baik dengan guru mereka – sebuah hubungan yang hangat, penuh kasih sayang dan terbuka dalam komunikasi.

“Hubungan anak dengan guru dan teman sebaya di sekolah memainkan peran penting dalam membentuk perilaku sosial mereka,” kata Brendgen.

“Studi kami menemukan bahwa hubungan yang baik dengan guru dapat melindungi anak-anak terhindar dari perilaku agresif dan menjadi target perilaku agresif dari anak-anak lain,” lanjutnya.

(sehat/ZM/kompas)

Menyusui Tak Sekedar Memberi ASI

Menyusui bukan sekedar memberikan makan untuk bayi, tetapi juga mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia, dan kesehatan lahir batin.

Hal tersebut menjadi tema besar perayaan hari ulang tahun Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang keempat. Menurut Mia Sutanto, Ketua Umum AIMI, pada ulang tahun yang keempat ini, AIMI ingin menyadarkan masyarakat bahwa menyusui itu tidak sekedar memberi ASI.

“Justru sekarang yang banyak diangkat itu ASI nya bahwa ASI itu bagus untuk kecerdasan, kesehatan bayi. Tetapi yang sering terlupakan oleh masyarakat bahwa kegiatan menyusui manfaatnya juga luar biasa,” katanya, dalam perayaan HUT AIMI ke-4 dengan tema “Menyusui, Lebih dari Sekedar ASI”.

Mia melanjutkan, kegiatan menyusui itu bisa juga melibatkan dekapan, belaian, berbicara, bernyanyi dan bersenandung dengan si bayi. “Itu semua adalah value added dari kegiatan menyusui itu,” tambahnya.

Mia menilai, kesadaran para ibu untuk memberikan ASI, belakangan ini sudah lebih baik. Namun kurangnya sosialisasi, edukasi dan dukungan seringkali menyebabkan ibu kurang menyadari pentingnya pemberian ASI eksklusif.

“Gencarnya promosi produk-produk pengganti ASI, itu semua yang sedikitnya banyak memberikan tantangan buat si ibu untuk bisa secara full memberikan ASI kepada buah hati,” jelasnya.

Mengutip data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, Mia mengatakan, angka pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan cenderung turun sebesar 32 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Sedangkan menurut laporan SDKI tahun 2003 itu 40 persen, jadi turun sekitar 6-8 poin,” pungkasnya.

(sehat/ZM/kompas)

Memaksa Menyapih Anak Picu Trauma

Saat menyapih anaknya, ibu-ibu sering mengoleskan sesuatu agar putingnya terasa pahit. Cara semacam ini sebaiknya dihindari, sebab bisa memicu trauma psikis pada si anak.

Tidak ada batasan yang pasti soal kapan seharusnya seorang anak mulai disapih. Namun disarankan sejak anak memasuki usia 2 tahun, frekuensi menyusui mulai dikurangi.

Kebutuhan nutrisi anak mulai berkembang, ASI tidak mencukupi lagi sehingga harus beralih ke makanan lain. Di samping itu, menyapih pada usia tersebut juga bertujuan untuk membatasi kelekatan emosional antara ibu dan anak agar tidak berlebihan. Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: